CN 295 Special Mission Pesawat Satu-satunya di Dunia Khusus Dibuat untuk TNI AU Skadron Udara 2 Skadron Intai/Patroli Maritim. terdiri dari 9 CN 295 SM dan mendapat tambahan 1 CN 295 MPA.Total 10 CN 295 TNI AU
Dikutip dari airbusdefenceandspace.com, TNI AU mempunyai CN 295 Special Mission hasil kerjasama dengan Airbus Military.Head of Military Aircraft, Airbus Defence and and Space, Fernando Alonso menjelaskan pada 2016 lalu bila CN 295Special MissionTNI AU hanya khusus dibuat untuk Indonesia dan satu-satunya di dunia.*
Dijuluki spesial mission karena pesawat ini merupakan wahana mata-mata milik TNI AU.
Ia dijejali berbagai perangkat elektronik untuk melakukan misi Signal Intelligence (SIGINT) hingga Electronic intelligence (ELINT).
Sensor seperti Automatic Identification System (AIS) Pesawat CN295 Special Mission memuat tiga konsol yang dilengkapi search radar dengan kemampuan deteksi hingga 200 mil laut (370 km).
Untuk mendukung misi pengintaian dari udara, TNI AU membutuhkan banyak sekali pesawat sejenis CN 295 Special Mission buatan PT DI.
Karena dengan CN 295 Special Mission, TNI AU lebih efektif menjalankan misi patroli lantaran cakupan radar pesawat itu mencapai 370 km.
Juga CN 295 mampu digunakan TNI AU untuk menguping informasi negara lain bila mau.
Dinamai special mission karena piranti sensor dan elektronik pesawat ini tak diketahui publik luas.
Pasalnya jika CN 295 terbang kemungkinan besar ia sedang melaksanakan misi penting.
Beragam sensor seperti Automatic Identification System (AIS) tersemat di CN 295.
Fungsi AIS ialah untuk mengidentifikasi sebuah kapal baik itu nelayan, kapal niaga hingga kapal perang.
Tapi tidak diketahui jenis apa yang ada di CN 295 Special Mission.
Kemudian ada IFF Integrator.
Fungsi IFF ialah menindaklanjuti AIS dimana apakah objek yang dideteksi merupakan kawan atau lawan.
Belum cukup sampai situ, di moncong pesawat ada radar maritim.
Lantas CN 295 dilengkapi SATCOM yang berguna untuk komunikasi jarak jauh dengan satelit.
Untuk menunjang berbagai operasi pengintaian, CN 295 mengakomodir tiga konsol search radar berkemampuan tinggi untuk menyapu wilayah sejauh 370 km.
Bisa dibilang tak ada target yang lepas dari pantauan CN 295 Special Mission asal masih berada dalam jangkauan radarnya.
Dikutip dari airbusdefenceandspace.com, Airbus Military dan PT DI yang membuat CN 295 Special Mission sengaja membangun pesawat ini hanya untuk TNI AU.
Head of Military Aircraft, Airbus Defence and and Space, Fernando Alonso menjelaskan pada 2016 lalu bila CN 295 Special Mission TNI AU hanya khusus dibuat untuk Indonesia dan satu-satunya di dunia.*
TNI AU dan US-PACAF Gelar Latihan Pacific Airlift Rally (PAR 2021)
TNI Angkatan Udara Indonesia dan tentara US-PACAF menggelar latihan bersama (Latma) Pacific Airlift Rally (PAR) 2021 yang dilaksanakan di Lombok Nusa Tenggara Barat, Senin (6/9/2021)
Latihan PAR-21 dilaksanakan mulai hari ini dan akan berakhir pada tanggal 10 September 2021 mendatang.
Kedua pesawat ini akan lepas landas dari Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (Bizam), secara bergantian dengan rute yang telah ditentukan kedua pesawat akan melaksanakan Field Training Exercise (FTX).
Selain itu dilaksanakan pula latihan Command Post Exercise (CPX) dan diakhiri penerjunan barang bantuan dengan teknik tertentu yakni Container Delivery System (CDS) di daerah latihan penembakan atau Area Weapon Range (AWR) Lanud TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) Rambang Lombok Timur.
Kepala Staf TNI AU Fadjar Prasetyo menandatangani tanda tangannya pada pesawat C-130J Super Hercules yang ditujukan untuk TNI AU di Lockheed Martin Production Facility. Kredit untuk TNI-AU.
Kasau optimis, program pengadaan pesawat Hercules seri terbaru akan meningkatkan kemampuan TNI AU Secara Signifikan
Dalam beberapa waktu ke depan, TNI Angkatan Udara mendapatkan tambahan kekuatan Alutsista pesawat angkut berat jenis C-130J Hercules yang saat ini sedang diproduksi oleh Lockheed Martin. C-130J Hercules yang akan diterima TNI AU ini, merupakan pesawat Hercules seri terbaru yang didisain secara modern versi militer, baik teknologi mesin pesawat maupun sistem avioniknya.
Program pengadaan alutsista ini, menjadi atensi khusus dari Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal TNI Fadjar Prasetyo, S.E., M.P.P. saat mengunjungi dan melihat proses produksi pesawat di Lockheed Martin pada 7 September 2021 lalu.
“Dengan diperolehnya pesawat dengan mesin, teknologi dan sistem avionik yang modern, merupakan suatu langkah yang besar bagi TNI Angkatan Udara Indonesia untuk menyesuaikan doktrin Operasi Angkutan Udara,” ungkap Kasau saat mengunjungi Lockheed Martin.
Saat berkunjung, Kasau juga berharap, pesawat tersebut juga dilengkapi dengan berbagai peralatan dan fasiltas pendukung pesawat, diantaranya tempat duduk navigator dan juru mesin di cockpit pesawat. Selain itu cargo pesawat juga dilengkapi dengan portable passenger seat, toilet, dan pantry serta wiring yang siap digunakan untuk memudahkan loading-unloading barang di pesawat.
Kepada pihak Lockheed Martin, Kasau juga berharap adanya jaminan ketersedian dan keberlangsungan suku cadang pesawat, terutama ketersedia suku cadang sejak awal pesawat dioperasionalkan oleh TNI AU, termasuk juga suku cadang yang bersifat urgen atau mendesak.
Hal lain yang menjadi atensi Kasau adalah, tentang pelaksanaan pelatihan yang komprehensif dan baik untuk air crew dan ground crew TNI AU, agar mendapatkan kemampuan terbaik dalam mengoperasikan pesawat tersebut.
Selamat! CN235 FTB sukses terbang perdana berbahan bakar bioavtur J2.4
Pertama Kalinya, Pesawat PTDI CN235-220 Uji Coba Pakai Avtur Sawit
Bahan bakar bioavtur yang digunakan CN235 FTB ini merupakan campuran minyak inti sawit atau dikenal juga sebagai Refined Bleached Degummed Palm Kernel Oil (RBDPKO) sebanyak 2,4 persen dengan katalis.
AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Pesawat CN235 FTB (Flying Test Bed) milik PT Dirgantara Indonesia (PTDI) sukses melaksanakan terbang pertama kalinya dengan menggunakan bahan bakar bioavtur J2.4 pada hari ini (9/9/2021).
Sebelum menjalani uji terbang ini, pada tanggal 6 September lalu CN235 FTB telah melaksanakan kegiatan ground test selama 20 menit di kawasan pabrik PTDI, Bandung.
Saat ground test tersebut, mesin CN235 FTB menjajal langsung berbagai posisi power. Mulai dari putaran rendah, hingga dipacu maksimal, atau sebaliknya. Tujuannya untuk memastikan performa bahan bakar tersebut aman.
Ground test bioavtur J2.4 pada CN235 FTB tersebut dilakukan sebanyak tiga kali dengan berbagai variasi situasi guna memperoleh data kondisi yang bervariasi pula.
Seperti pagi hari saat temperatur luar masih dingin, lalu siang tatkala terjemur panas matahari ada perbedaan efeknya atau tidak.
Saat uji terbang, hanya tangki kanan CN235 FTB yang diisi bioavtur sementara yang kiri tetap memakai bbm konvensional.
Hal ini untuk mencegah hal terburuk, jadi masih punya satu mesin (kiri) menyala untuk keamanan.
Bahan bakar bioavtur yang digunakan CN235 FTB ini merupakan campuran minyak inti sawit atau dikenal juga sebagai Refined Bleached Degummed Palm Kernel Oil (RBDPKO) sebanyak 2,4 persen dengan katalis.
Produk bioavtur ini merupakan bagian dari program nasional bioavtur yang dijalankan secara konsorsium oleh ITB, PT Pertamina, Bioenergi, PT GMF Aeroasia, DKPPU, IMAA, DPNPKS, Lemigas serta PTDI di bawah naungan Kementerian Energi & Sumber Daya Mineral (ESDM).
Rencananya uji terbang menggunakan bahan bakar bioavtur J2.4 ini akan dilakukan sebanyak dua kali.
Uji coba berikutnya CN235 FTB akan diterbangkan menuju Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng yang dijadwalkan pada 15 September nanti.
Kedua data dari hasil pengujian, baik ground test dan flight test pemakaian bioavtur J2.4 pada CN235 FTB akan menjadi masukan penting bagi otoritas penerbangan Indonesia, yakni Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Direktorat Jenderal Perhubungan Udara serta Indonesian Military Airworthiness Authority (IMAA).
Pengembangan bioavtur tersebut selanjutnya diharapkan akan mendukung program pemanfaatan energi baru terbarukan di Tanah Air.
Army Games 2021 di Moskow Rusia, Dirjen Strahan Kemhan Pastikan TNI Akan Ikut Tahun Depan
Letkol Inf Wirahady Harahap dan Lettu Inf Singgih saat menjadi pengamat Polar Star Army Games 2021 di Brest, Belarusia. Foto: Dok. Letkol Inf Wirahady Harahap
Letkol Pas. M Junaidi yang menjadi pengamat di Sniper Frontier di Brest, Belarusia. Foto: dok. Letkol Pas. M Junaidi
Mayor Inf Zierda Aulia yang menjadi pengamat dalam kompetisi di Ryazan. Foto: dok. Walikota Inf Zierda Aulia
Foto bersama delegasi Korea Utara, Mayjen Kim Yong Jin. Foto: Dok. Kolonel Laut (S) Ariyan Dilli Louhenapessy