Sejarah Kerjasama Indonesia Dan Korea Selatan. Indonesia Menjadi Pembeli Pertama Pesawat Korea Selatan
Kisah Indonesia dan Korea selatan dalam hubungan kedirgantaraan adalah sebuah ikatan yang tidak boleh putus dan harus dijaga oleh kedua belah pihak kedekatan ini dimulai awal tahun 2000an Korea selatan baru saja berhasil membuat pesawat "made in Korea" pertama mereka yaitu KT-1 woongbi tanpa ada pikiran tentang pasar ekspor Tapi siapa sangka pelanggan ekspor pertama tersebut adalah Indonesia, tepat pada tahun 2003 Indonesia membeli 18 unit KT-1 dengan cara ditukar dengan 8 unit CN-235 produksi PTDI.
Lanjut kita ke tahun 2005 dimana Korea selatan membuat pesawat jet pertama mereka, T-50 Golden Eagle
walau produksi dibantu oleh Lockheed Martin pesawat ini kurang laku di pasar ekspor, tapi... Sekali lagi... Indonesia membeli 16 unit pesawat ini sebagai pembeli pertama pada tahun 2014.
Dan yang terakhir... lagi dan lagi.. Indonesia mengajukan kerjasama untuk menjadi partner utama dalam pembuatan pesawat Tempur generasi 4,5++ Korea selatan, KF-21 boramae.
Walau kita tahu track record kita di proyek KF-21 Ini cukup pahit akibat delay dari pihak Amerika dan kita yang selalu nunggak pembayaran tetapi nyatanya kita masih mau ikut (dan bayar tentunya). pihak Korea pasti kesal, tapi sudah cukup senang dengan itu daripada tidak sama sekali (kehilangan potensi pasar ekspor 36-80 pesawat itu fatal)
Jadi... apa sudah terlihat ? Disaat Korea membuat pesawat kita selalu jadi pembeli yang pertama
Korea senang dapat pelanggan setia, kita pun harusnya senang karena sudah dekat dengan penjual
Hubungan ini jika bisa jangan sampai hilang bahkan jika perlu pertahankan selama lamanya
karena membangun sebuah "kepercayaan" adalah hal yang sulit.
#IDR_Cronus
South Korean KF-21 Borame Fighter to be Armed with General Dynamics 20mm Gatling Gun System
The South Korean KF-21 “Borame” fighter is armed with the M61A2 20mm Gatling gun system produced by General Dynamics Ordnance and Tactical Systems. The fixed-forward internal gun system provides maximum firing rate performance. The KF-21 armament system features the lightweight M61A2 20mm Gatling gun and linear linkless ammunition feed system. The M61A2 provides up to 10 times the reliability of single-barrel guns, firing at 6,000 shots per minute and placing a controlled dispersion of projectiles in the path of the target. The M61A2 is available for applications where weapon system weight reduction is critical.
The linear linkless ammunition feed system features state of-the-art composite and unique gun-feed technologies to provide high reliability at minimum weight. General Dynamics ammunition storage and handling systems have been used in all modern U.S. front-line fighter aircraft. The KF-21 linear linkless ammunition feed system is compatible with three General Dynamics loading systems, including the Universal Ammunition Loading System, the Ammunition Loading System and the Universal Delinking Loader. The ALS and UALS systems significantly reduce manpower requirements and aircraft turnaround time by eliminating the need for linked ammunition.
The M61 Vulcan is a hydraulically, electrically or pneumatically driven, six-barrel, air-cooled, electrically fired Gatling-style rotary cannon. The M61 was originally produced by General Electric. After several mergers and acquisitions, it is currently produced by General Dynamics. The initial M61 used linked ammunition, but the ejection of spent links created considerable problems. The original weapon was soon replaced by the M61A1, with a linkless feed system. A lighter version of the Vulcan developed for use on the F-22 Raptor, designated M61A2, is mechanically the same as the M61A1, but with thinner barrels to reduce overall weight to 92 kilograms (202 lb).
The KAI KF-21 Boramae (formerly known as KF-X) is a South Korean 4.5 generation fighter aircraft development program, with limited Indonesian inolvement, with the goal of producing an advanced multirole fighter for the South Korean and Indonesian air forces. The airframe is stealthier than other fourth-generation fighters, but does not carry weapons in internal bays like fifth-generation fighters, though internal bays may be introduced later in development. It was officially given the name Boramae (literally ‘young hawk’ or ‘eyas’). At least 40 aircraft are planned to be delivered by 2028 and a total of 120 of the aircraft by 2032.
[Exclusive] Hypersonic missile applied to Korean fighter jets
A Korean supersonic air-to-ship missile for KFX to be developed by the Defense Science Research Institute. Photo courtesy of National Defense Science Research Institute
[Asia Economy Reporter Yang Nak-gyu] As North Korea claimed that it had succeeded in developing a hypersonic missile with a maximum speed of Mach 10, the issue of military imbalance between the two Koreas emerged. The South Korean military is also accelerating the development of hypersonic missiles in response to this. Hypersonic missiles are called “game changers” that can change the game of warfare in that they are more difficult to detect and intercept than general ballistic missiles. Only three countries, the US, China and Russia, have successfully launched the launch.
A government official said on the 13th, "We have requested the Joint Chiefs of Staff to develop a hypersonic missile to be installed on the Korean fighter KF-21 Boramae, and we plan to start developing it as early as this year." The process of requesting the Joint Chiefs of Staff is the official first step towards developing weapons.
The Defense Science Research Institute (ADD) determined that it would be possible to develop a hypersonic missile with a range of 500 km or more and a speed of Mach 5 or more, considering the level of domestic technology and the weight of the KF-21 armament as a result of a preliminary concept study last year. ADD plans to develop a ground-launched hypersonic vehicle and complete flight tests next year. If a hypersonic missile is developed based on this vehicle and launched from the sky above Seoul, it can reach Pyongyang, 250 km away, in 1 minute and 15 seconds.
ADD is also planning to develop a supersonic air-to-ship missile with a maximum speed of 2 to 3 Mach and install it on the KF-21. The Joint Chiefs of Staff decided to develop and equip the KF-21 with a supersonic air-to-ship missile at the 326th Joint Chiefs of Staff meeting in February 2019.
The military is planning to equip the KF-21 with air-to-air missiles (two types), air-to-surface bombs (9 types), and air-to-surface missiles (1 type). watching.
https://news.v.daum.net/v/20220113105227952
This post contains more resources
You have to Login for download or view attachment(s). No Account? Register
Kapal BRS Ke 1 dr. Wahidin Sudirohusodo, Siap Beraksi dan Bergabung dengan Armada TNI AL Finalisasi Test. Speed Performance, Ship Manouvering Dan Heli Deck Party
PUSPERNEBAD TNI AD Akan Terima 32 Helikopter dan 5 Pesawat Cassa.
Chief Of Army Staff: the army aviation will received 32 new helicopter and 5 casa aircraft from mindef
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Dudung Abdurachman mengungkapkan, TNI AD dalam waktu dekat segera menerima 32 helikopter dan 5 pesawat dari Kementerian Pertahanan (Kemenhan).
Berkaitan dengan itu, Dudung mengatakan, TNI AD perlu merekrut calon penerbang dari SMK Penerbangan untuk memenuhi kebutuhan personel dalam mengawaki alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang dimiliki Pusat Penerbangan Angkatan Darat (Puspenerbad).
"Ke depan selain alutsista, khusus personel Penerbad akan menjadi prioritas dalam jenjang karier, sehingga pangkat Sertu yang sudah 2 tahun akan disekolahkan Secapa dan menjadi perwira karena penerbang adalah seorang perwira," ujar Dudung di Pangkalan Utama TNI AD (Lanumad) Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (11/1/2022).
Di samping itu, Dudung menekankan agar seluruh prajurit terus meningkatkan profesionalisme dan menjaga soliditas dengan satuan-satuan lain. Sebab, menurut dia, yang paling penting adalah menjaga alutsista.
"Alutsista ini tidak murah, oleh karenanya betul-betul dipelihara dan jangan berspekulasi. Kalau tidak memungkinkan jangan mengambil risiko, apabila ada kekurangan apa pun segera diajukan ke komando atas dan akan kami dukung," kata dia. Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Dudung berkesempatan menerbangkan helikopter serang AH-64E Apache dari Hanggar Skadron-11/Serbu Lanumad Ahmad Yani. Tak kurang dari 30 menit, Dudung menerbangkan helikopter tersebut dengan rute Hanggar Skadron-11 menuju kawasan Simpang Lima dan kembali lagi ke Bandara Ahmad Yani.
Keberhasilan Dudung menerbangkan helikopter ini mencatatkan sejarah bagi dirinya sebagai KSAD pertama yang sukses memiloti Apache. Setelah menaiki Apache, Dudung menerima brevet kehormatan berupa wing penerbang TNI AD yang disematkan Komandan Puspenerbad Mayjen TNI Bueng Wardadi.
Sebagai informasi, Helikopter AH-64 Apache adalah tipe helikopter militer dari jenis penyerbu atau penggempur yang bisa diterbangkan dalam berbagai keadaan cuaca. Helikopter serbu ini dikendalikan oleh dua orang crew dan persenjataan utamanya terdiri dari sebuah senapan mesin M230 kaliber 30 mm yang terletak di bawah hidung AH-64 Apache.
Helikopter ini juga bisa membawa gabungan persenjataan lain seperti AGM-114 Hellfire dan pod roket Hydra 70 di empat hard point pada pangkal sayap.
Serah Terima Kapal Bantu Rumah Sakit Ke - 1 Dari PT PAL Ke TNI AL
Ceremony Delivery kapal BRS KRI dr. Wahidin Sudirohusodo-991 yang berlangsung pada tanggal 14 Januari 2022 di dermaga Madura Koarmada II Surabaya,
Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) TNI AL Ciptakan Drone 2 Alam Bisa Terbang dan Menyelam
TNI AL melalui Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) berhasil menciptakan inovasi membanggakan. Adapun produk itu adalah drone dua media yang terbang di udara maupun dapat menyelam di air. Drone tersebut dipamerkan pada acara Wisuda Lulusan STTAL bertempat di Gedung Graha Samudera Bumimoro, Surabaya, Kamis (13/1/2022).
Selain drone dua media, dipamerkan pula produk teknologi penelitian dosen dan mahasiswa STTAL lainnya. Antara lain, Hybrid Drone dengan Solar Cell untuk pengintaian, Riddingbouy dengan sistem kendali untuk operasi penyelamatan korban jatuh di laut, dan Rancang Bangun Cone Explosive sebagai senjata tempur dasar laut
Benda tersebut didukung dengan sistem firing device berbasis mikrokontroler arduino dan lora. Kemudian, ada pula Alat Ukur Pasang Surut Sensor Pressure dengan modul pengiriman data nirkabel jarak jauh. Prototipe produk-produk penelitian tersebut nantinya akan disinergikan dengan satuan terkait selaku pengguna. Selanjutnya akan ditindaklanjuti oleh Dislitbangal dalam rangka pengembangan dan produksi massal guna mendukung perkuatan dan kemandirian alutsista TNI AL. Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono menyampaikan ucapan selamat kepada para wisudawan yang telah berhasil menyelesaikan studinya di STTAL secara tepat waktu.
PT IPCD (Indo Pacific Communication & Defence) UAV D Fligh Acceptence Test Puslaik Kemhan
IPCD UAV-D sudah mendapatkan Type Certificate (TC) dan Kelaikudaraan Militer utk UAV-D S/N-01 dan S/N-02 dari Indonesia Military Airworthiness Authority (IMAA) - Puslaik Kemhan. Full Autonomous Flight (Takeoff, Flight Mission and Landing).
Saat ini UAV- D sudah masuk jajaran TNI AU dan sedang dalam proses Registrasi Number dan Training Program Personil Operator & Maintenances TNI AU. Semoga dapat segera dioperasikan untuk menjaga kedaulatan wilayah NKRI. Swa Bhuwana Paksa.
TNI Angkatan Udara (AU) Test sebuah UAV anyar yang dibuat PT IPCD (Indo Pacific Communication & Defence). Pesawat tanpa awak yang berbahan 100% karbon komposit itu bernama IPCD M.A.L.E (Medium Altitude Long Endurance). Penggunaan komposit pada desain struktur menjadikan UAV ini tidak mudah terdeteksi radar.
Paskhas Orbiter Akan Diminta Demonstrasikan UAV Orbiter-2B Made In Israel
UAV Aeronautics Orbiter 2B milik Paskhas TNI AU
Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa penasaran dengan YF Orbiter 2B --pesawat tanpa awak-- yang dimiliki Paskhas TNI AU. Dalam waktu dekat, dia secara khusus meminta Paskhas TNI AU bisa mengoperasikan pesawat tanpa awak yang dapat dikendalikan dari kendaraan darat yang bergerak.
"Dalam waktu dekat saya ingin melihat operasional Orbiter ini sekaligus dengan CS4," pinta Jenderal Andika saat berkunjung ke markas Paskhas di Komplek Lanud Halim Perdanakusuma yang dilihat melalui kanal YouTube Andika Perkasa, Selasa 18 Januari.
YF Orbiter 2B didapat melalui pengadaan Tahun 2020. Daya jelajahnya bisa mencapai lebih dari 30 Km dengan durasi penerbangan 2 jam yang didapat melalui batere. Yang hebatnya lagi, YF Orbiter 2B bisa terbang hingga ketinggian 18 ribu kaki.
Andika juga secara khusus memuji kemampuan yang dimiliki oleh Paskhas. Dia punya wacana kalau Paskhas akan dilibatkan dalam berbagai kegiatan, bukan hanya operasi tempur saja.
"Karena kematangan kita ini ini bukan hanya dari operasi, tapi cari kita bergaul itu bisa berpengaruh terhadap tugas kita," tegasnya.
Nigeria Rencana Beli Pesawat N-219 Dan 2 Helikopter Serta Kenderaan Tempur Dari Indonesia.
Kembali, industri pertahanan Indonesia tunjukkan taringnya di kancah internasional dengan pesawat N219.
Badan Nasional Infrastruktur Sains dan Rekayasa (NASENI) mengatakan sedang dalam rencana pembelian pesawat N219 hingga helikopter buatan PT DI (Dirgantara Indonesia).
Tak hanya itu, NASENI juga disebut berencana untuk membeli berbagai peralatan hanggar dari PT DI.Hal ini semakin menunjukkan seberapa hebatnya industri pertahanan nasional yang mampu menarik pasar global.
Sebagaimana dikutip Zonajakarta.com dari sunnewsonline.com, Executive Vice Chairman/Chief Executive (EVC/CE) NASENI, Prof. Mohammed Sani Haruna turut memberikan keterangannya.Dia mengatakan jika pihaknya telah mendapat persetujuan untuk memperoleh ‘know-how’ dari Indonesia.
Dimana hal tersebut berkaitan dengan pengembangan pesawat sipil dan militer.Hal itu disampaikan Prof Haruna saat menerima Dubes RI Dr Usra Hendra Harahap dan delegasinya di kantor pusat LPPM di Abuja, 14 Januari 2022.
“Kami telah menyetujui untuk memperoleh pengetahuan dari Indonesia tentang pengembangan pesawat terbang, baik sipil dan militer, pengangkut personel lapis baja dan peralatan lain yang dibutuhkan oleh militer, dan beberapa teknologi di bidang pupuk dari lokal.
Sumber daya yang tersedia, kendaraan sederhana dan khusus yang diterapkan untuk mekanisasi pertanian dan sistem irigasi yang akan meningkatkan dan meningkatkan hasil panen,” terangnya.
Prof Haruna juga menjelaskan bahwa ini bukan pertama kalinya pemerintah Indonesia bermitra dengan Nigeria.“Ini bukan pertama kalinya Indonesia melatih tenaga kerja kami di bidang produksi turbin hidro kecil.Orang-orang kami memiliki spesialisasi dan melakukannya untuk negara,” tambahnya.
Sebelumnya Nigeria dan Indonesia pernah melakukan kerja sama dalam inovasi teknologi.Dan kunjungan tersebut menunjukkan kesiapan mereka untuk melakukan hal ini.“Ini adalah area yang disetujui untuk kami dan mereka telah menyetujui transfer teknologi,” jelas sumber.
“Presiden telah mengarahkan kami untuk memastikan bahwa kami memperoleh teknologi, dan kunjungan duta besar merupakan indikasi yang jelas bahwa pemerintah Indonesia dan rakyatnya bersedia mendukung kami,” tambahnya.