Bukan Cuma 500, Menhan Prabowo Ternyata Berniat Beli 3.000 Unit Maung Dari Pindad
INDUSTRY.co.id - Jakarta - Usai mencoba kendaraan taktis produksi terbaru dari PT Pindad (Persero) yang bernama Maung pada Minggu (12/7/2020) lalu, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto berniat untuk membeli sebanyak 500 unit kendaraan tersebut.
"Total yang diinginkan Pak Prabowo sekitar 3.000 unit tapi untuk tahap pertama beliau memesan 500 unit dulu. Jika kondisi memungkinkan karena Pandemi, Maung akan diikutkan dalam defile Hari TNI 5 Oktober nanti," kata Direktur Utama PT Pindad Abraham Mose dikutip dari detik, Rabu (15/7/2020).
Abraham mengungkap, kendaraan taktis Maung didesain dan diproduksi oleh Pindad setelah berdiskusi dengan Komandan Pussenif Mayjen TNI Surawahadi pada 2018. Saat itu Surawahadi mengungkap perlunya Pindad membuat kendaraan taktis ringan untuk digunakan dalam pertempuran jarak dekat.
Kendaraan yang mampu bermanuver dengan cepat, gesit, dan memudahkan para prajurit untuk bertindak baik menembak maupun menyergap, lalu pergi.
"Inilah desain optimal yang kami hasilkan, sudah lulus uji litbang internal, litbang Pussenif, juga laboratorium Angkatan Darat. Dengan kemampuan seperti itu pula kendaraan ini dinamai Pak Prabowo Maung," ujar Abraham.
Prabowo Borong 4 Miliar Peluru Senilai Rp 19 Triliun, PT Pindad: Terbanyak Sepanjang Sejarah
PT Pindad (Persero) mendapatkan order sebanyak empat miliar butir amunisi dari Kementerian Pertahanan (Kemenhan) yang dipimpin Menhan Prabowo Subianto. Jumlah ini disebut-sebut sebagai pesanan terbanyak yang diminta kepada Pindad sejak perusahaan berdiri.
Direktur Utama Pindad Abraham Mose mengatakan dengan jumlah pesanan tersebut, nilai kontrak yang telah ditandatangani perusahaan dengan Kemenhan nilainya mencapai Rp 19 triliun dan kontrak ini harus dipenuhi hingga 2023 mendatang.
"Kemarin Pindad dapat order amunisi empat miliar butir, baru pertama sejak pindad berdiri," kata Abraham kepada CNBC Indonesia, Senin (13/7/2020).
Dia mengatakan perusahaan perlu untuk meningkatkan kapasitas produksi pabriknya. Sebab saat ini kapasitas produksi hanya mencapai 300 juta butir per tahun, sedangkan tahun ini perusahaan harus memenuhi pesanan 500 juta butir.
Saat ini perusahaan sedang dalam proses untuk modernisasi pabrik untuk bisa meningkatkan kapasitas produksi pabrik amunisi ini.
"Kita harus modernisasi pabrik amunisi jika pesanan sampai 4 miliar butir dalam 2023. Kapasitas produksi saat ini baru mencapai 300 juta butir per tahun, kalau 4 miliar harus modernisasi mesin. Kebutuhannya dengan investor dan bank Rp 2,5 triliun," kata dia
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat meminta Menteri Pertahanan Prabowo Subianto untuk membeli alat utama sistem persenjataan (alutsista) karya anak bangsa untuk kembali menggeliatkan aktivitas ekonomi nasional.
Hal tersebut dikemukakan Jokowi saat memimpin rapat terbatas secara tertutup pada Selasa (7/7/2020). Pernyataan Jokowi dalam rapat diunggah melalui akun YouTube Sekretariat Presiden.
Indonesia wants to modernize its air force with the Eurofighters. © APA
Indonesia wants to buy the Austrian Eurofighter. Defense Minister Prabowo Subianto offers his counterpart Klaudia Tanner (ÖVP) a letter to buy all 15 interceptors, reports "Die Presse" in its Sunday edition.
The defense department confirmed receipt of the letter but did not want to comment further on the letter.
"Please allow me to contact you directly on a very important matter for the Republic of Indonesia," the minister wrote in English. A German consultant informed Prabowo that Austria bought the Eurofighter in 2002.
"In order to modernize the Indonesian Air Force, I would like to enter into official negotiations with you to buy all 15 Eurofighters for the Republic of Indonesia," quotes "Die Presse" from the letter, dated July 10 and in the Ministry at the end of last week has arrived.
Prabowo apparently knows the clashes over the Eurofighter in Austria and the efforts to get rid of these planes: "I am aware of the sensitivity of the matter," writes the Indonesian minister. He knows the circumstances of the Eurofighter purchase in Austria and its effects to the present day. "Nevertheless, I am sure that my offer offers opportunities for both sides," he believes.
Boeing Ready to Move Forward with US-Indonesia Osprey Deal
MV-22 Osprey tilt-rotor aircraft (photo : Boeing)
Indonesian Chief Army with MV-22 Osprey (photo : digitalindonesianews)
Defense and aerospace giant Boeing said it was looking forward to working closely with the United States and Indonesia to finalize a possible US$2 billion deal for Osprey tilt-rotor aircraft.
“Congressional notification is an important step in the United States’ Foreign Military Sales (FMS) process, so we’re pleased that a potential V-22 acquisition by Indonesia has entered this phase,” Boeing said in a statement to The Jakarta Post dated July 15.
“Currently, the US military is buying the V-22 under the Multiyear Procurement III (MYP III) contract. Completion of this sale in 2020 will allow Indonesia to receive the MYP III pricing already negotiated by the US Government for its aircraft.”
An agency of the US Defense Department, the Defense Security Cooperation Agency (DSCA) announced on July 6 that the US State Department had “made a determination approving a possible Foreign Military Sale to the Government of Indonesia of eight (8) MV-22 Block C Osprey aircraft and related equipment for an estimated cost of $2 billion”.
“The Defense Security Cooperation Agency delivered the required certification notifying Congress of this possible sale today,” the DSCA said in a statement dated July 6.
After the DSCA announced the US State Department’s approval, many in the Indonesian defense establishment said they were unaware of any plan to acquire Osprey. The DSCA announcement of a FMS, however, can only be made after a letter of request is sent by a potential buyer.
In a FMS, a potential buyer negotiates with the US government instead of with defense contractors. One advantage of this method is that the purchase can be included in a US military procurement program that is already underway, often reducing the price for the buyer and increasing interoperability with the US.
Another path to acquiring US primary weapons systems (alutsista) is through Direct Commercial Sales, in which a foreign buyer negotiates directly with a defense contractor.
In its statement, Boeing identified the Indonesian Army as the Osprey’s potential user.
“The V-22 would enable the Indonesian Army to reach those areas and rapidly respond to crises across Indonesia and the region at large with its own organic aviation assets,” the company said.
“Bell Boeing has been in ongoing discussions with the Indonesian government and Indonesian companies to develop the best possible approach to address requirements pertaining to this Foreign Military Sale in support of TNI-AD and local industry.”
Rabu (22/7/2020) Kemenhan Indonesia Kerjasama Pertahanan Dengan Turki
Pesawat Tanpa Awak Made in Turki
Menteri Pertahanan Republik Indonesia Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto melakukan kunjungan kerja ke Turki, Rabu (22/7/2020).
Informasi itu diketahui dari unggahan Ketua Presidensi Industri Pertahanan Republik Turki Ismail Demir di akun Twitter pribadinya @IsmailDemirSSB seperti dikutip CNBC Indonesia, Kamis (23/7/2020).
"Kami mengadakan pertemuan dengan Menteri Pertahanan Indonesia Prabowo Subianto dan delegasinya," tulis Ismail.
Dalam pertemuan itu, dia mengungkapkan kedua pihak bertukar pandangan tentang kerja sama di berbagai bidang, terutama alat utama sistem persenjataan (alutsista) seperti pesawat tanpa awak (UAV/Unmanned Aircraft Vehicle) serta kendaraan tempur di laut.
Sebelumnya, Prabowo mengadakan kunjungan kerja ke Turki pada 27-29 November 2019. Saat itu, Prabowo juga bertemu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
Prabowo menyampaikan keinginan Indonesia memperkuat kerja sama pertahanan antara kedua negara. Sedangkan Erdogan menegaskan perhatian khusus Turki terhadap hubungannya dengan Indonesia, tidak terkecuali dalam kerja sama pertahanan.
DPR Minta Prabowo Lunasi KFX Korsel Ketimbang Typhoon Austria
Anggota DPR Lebih Memilih KFX/IFX Dibandingkan Typhoon Austria
Anggota Komisi Pertahanan dari Fraksi Demokrasi Indonesia Perjuangan, Tubagus Hasanudin, menyatakan pemerintah Indonesia berpotensi diembargo sejumlah negara jika meneruskan ambisi membeli pesawat bekas dari Austria. "Kita sedang merintis prototype pesawat tempur melalui kerja sama KFX/IFX (Korea Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment) yang seharusnya bisa dikembangkan," ucap Hasanuddin kepada Tempo, kemarin.
Anggota Komisi I DPR RI Muhammad Farhan menyarankan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto melunasi proyek kerja sama pesawat tempur KFX/IFX dengan Korea Selatan ketimbang membeli 15 pesawat tempur Eurofighter Typhoon bekas dari Austria.
Farhan mengatakan proyek kerja sama dengan Korea Selatan itu memang mahal. Namun akan berdampak positif bagi pengembangan industri pertahanan Indonesia dalam jangka panjang.
"Walaupun pahit bahwa kita mesti bayar hampir US$2 miliar, tapi kita dapat teknologinya, kesempatan mengembangkan orang-orangnya," kata Farhan saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (23/7).
Farhan menyebut Indonesia telah membayar US$250 juta atau sekitar Rp3,79 triliun untuk memulai proyek tersebut. Dia menyarankan Prabowo untuk memfokuskan anggaran ke proyek itu dibanding membeli pesawat bekas Austria.
"Jangan sampai putus (kontrak). Ini sebuah keputusan sulit yang benefitnya kita bisa rasakan 5-10 tahun ke depan dan bisa menjadi dasar bagi kita memetakan road map menuju minimum essential force (kekuatan pokok minimum alutsista)," ucapnya.
Indonesia Considering Purchase of More Russian Mi-17 Helicopters
TNI AD Mi-17V5 helicopter (photo : wiraaryaguna)
"The Indonesian armed forces also utilize 12 Russian Mi-17B5 and 5 Mi-35 helicopters. A proposal for the further purchase of Mi-17B5 helicopters is currently in process at the Indonesian Ministry of Defence," the ambassador said.
"In 2019, a contract was concluded for 43 BMP-3F and BT-3F tanks. The value of the contract is $175 million. The process of implementing the contract is ongoing," the ambassador commented.
Jakarta Remains Committed to Russian Su-35 Deal Despite Threat of US Sanctions
Indonesia is still committed to a 2018 deal over the purchase of Russian-made Su-35 military jets, despite the threat of US sanctions, the country’s ambassador in Moscow, Mohamad Wahid Supriyadi, said in an interview.
"It is still going on," Supriyadi said when asked about the status of the deal.
Supriyadi said that as an independent country, Indonesia has the right to purchase defence equipment from whoever it chooses.
"We understand there is some concern from a certain country, but we are an independent country. We have military equipment bought from many countries. We can get it from the US, from Europe, but also from Russia. It is up to us to decide," the ambassador remarked.
According to the $1.1 billion deal, Russia will deliver 11 Su-35 fighters to Indonesia, and the ambassador said that Jakarta has not walked away from the agreement.
On First Indonesian Nuclear Plant
"Rosatom already drafted a proposal in detail about the establishment of the first nuclear power plant in Indonesia. And we sent it already … because it will be dealt with by different ministries in Indonesia," the ambassador said.
TNI AL Gelar Latihan Perang di Selat Karimata dan Perairan Natuna Selatan
Latihan tersebut digelar selama empat hari sejak 21 Juli hingga 24 Juli dan mengerahkan 24 kapal atau unsur laut di antarannya satu kapal selam, 14 unsur udara serta 2000 personel TNI AL.
Beni Sukadis menilai selain untuk meningkatkan profesionalitas prajurit, latihan yang digelar oleh Koarmada I di wilayah yang berdekatan dengan Laut China Selatan itu untuk mengirimkan pesan kepada negara lain agar menghormati aturan hukum internasional.
Di tengah panasnya hubungan Amerika Serikat-China, Menurut Beni dalam latihan itu Indonesia mengisyaratkan agar negara-negara untuk patuh menghormati UNCLOS 1982 dan juga putusan Mahkamah Arbitrase Internasional terkait Laut China Selatan.
"Kita menunjukkan bahwa kita punya ketegasan adalah inilah wilayah kami dan kami berdaulat yah begitu saja," pungkas dia kepada Anadolu Agency melalui sambungan telepon.
Perkuat TNI AL, KRI Posepa- 870 Dan KRI Escobar -871 Resmi Diluncurkan di Halte Slipway PT Caputra Mitra Sejati, Banten
TNI Angkatan Laut meluncurkan dua kapal perang baru jenis Patroli Cepat (PC-40 M) yakni KRI Posepa-870 dan KRI Escolar-871 yang diresmikan oleh Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Yudo Margono, S.E., M.M., didampingi Ketua Umum Jalasenastri Ny. Vero Yudo Margono, bertempat di Halte Slipway PT Caputra Mitra Sejati, Banten, Senin (27/7).
Kapal PC 40 M ini, memiliki spesifikasi panjang 45,5 meter, lebar 7,9 meter dan bobot 220 ton. Kapal tersebut mampu melaju dengan kecepatan maksimal 24 knot, kecepatan jelajah 17 knot dan kecepatan ekonomis 15 knot, serta memiliki ketahanan (endurance) dalam berlayar selama enam hari. Kapal perang ini juga dilengkapi dengan dua unit radar dan senjata meriam 30 mm serta diawaki 35 Anak Buah Kapal (ABK).
Indonesia Eyes German Warship for Interim Readiness Frigate Requirement
The Indonesian Ministry of Defence (MoD) has indicated an interest in procuring Germany’s Bremen (Type 122)-class warship for a newly established Indonesian Navy (Tentara Nasional Indonesia – Angkatan Laut: TNI-AL) requirement known as the Interim Readiness Frigate (IRF).
Documents provided to Janes on 30 July indicate that the IRF, and the recommendation to procure Germany’s sole remaining Bremen-class frigate, were established based on a letter of guidance from the Indonesian MoD.